Profil Khalifah Utsman bin Affan RA


UTSMAN BIN AFFAN RA

Musyawarah dan kesepakatan untuk baiat beliau

Umar ra menetapkan perkara pengangkatan khalifah di bawah Majelis Syura yang beranggotakan enam orang, mereka adalah: Utsman bin Affan ra, Ali bin Abi Thalib ra, Thalhah bin Ubaidillah ra, Az-Zubair bin Awwam ra, Sa’ad bin Abi Waqqash ra dan Abdur Rahman bin Auf ra. Umar ra merasa berat untuk memilih salah seorang di antara mereka. Beliau berkata, “Aku tidak sanggup untuk bertanggung jawab tentang perkara ini baik ketika aku hidup maupun setelah aku mati. Jika Allah SWT menghendaki kebaikan terhadap kalian maka Dia akan membuat kalian bersepakat untuk menunjuk seorang yang terbaik di antara kalian sebagaimana telah membuat kalian sepakat atas penunjukan orang yang terbaik setelah nabi kalian.

Di antara yang menunjukkan kesempurnaan kewaraan beliau, beliau tidak memasukkan dalam anggota majelis syura tersebut Sa’id bin Zaid bin Amr bin Nufail karena ia adalah anak paman beliau. Beliau khawatir dia akan diangkat karena posisinya sebagai anak paman beliau dan dia adalah salah seorang yang diberitakan masuk surga, bahkan pada riwayat al-Madainy dari para Syaikhnya bahwa ia (Sa’id bin Zaid) mendapat pengecualian di antara mereka, Umar ra katakan, “Kamu tidak termasuk anggota majelis syura.” Umar ra berkata kepada anggota majelis syura, “Apakah Abdullah (anak beliau) ikut hadir? Dia tidak termasuk dalam keanggotaan majelis ini.” Bahkan beliau memberikan pendapat dan nasehat kepada anggota tersebut agar dia (Abdullah) jangan diberi jabatan tersebut. Beliau juga mewasiatkan agar Shuhaib bin Sinan ar-Rumy mengimami shalat selama tiga hari sampai musyawarah itu tuntas dan mejlis syura mempunyai kesepakatan atas urusan tersebut.

Mereka bermusyawarah di rumah membicarakan tentang urusan ini hingga akhirnya hanya terpilih tiga kandidat saja. Zubair ra menyerahkan jabatan khalifah tersebut kepada Ali bin abi Thalib ra, Sa’ad ra kepada Abdur Rahman bin ‘Auf, dan Thalhah kepada Utsman bin Affan ra. Abdur Rahman bin ‘Auf berkata kepada Ali ra dan Utsman ra., “Sesungguhnya aku melepaskan hakku untuk salah seorang di antara kalian berdua yang berlepas diri dari perkara ini, Allah SWT sebagai pengawasnya. Sungguh akan diangkat sebagai khalifah salah seorang yang terbaik di antara dua orang yang tersisa.” Ucapan ini membuat Utsman dan Ali ra terdiam. Kemudian Abdur Rahman bin ‘Auf melanjutkan, “Aku akan berusaha untuk menyerahkan jabatan tersebut kepada salah seorang di antara kalian berdua dengan cara yang benar.” Mereka berdua menjawab, “Ya.” Lantas mereka pun bubar. Abdur Rahman berusaha tiga hari tiga malam tidak tidur dan hanya melakukan shalat, doa dan istikharah serta bertanya-tanya kepada mereka yang mempunyai pendapat tentang dua kandidat ini dan tidak dijumpai seorang pun yang tidak condong kepada Utsman ra.

Ketika tiba pagi hari yang keempat setelah wafatnya Umar bin Khathab ra, Abdur Rahman mendatangi rumah kemenakannya al-Miswar bin Makhramah dan berkata, “Apakah engkau tidur  ya Miswar? Demi Allah SWT aku sangat sedikit tidur sejak tiga hari yang lalu. Pergilah untuk memanggil Ali ra dan Utsman ra!” al-Miswar berkata, “Siapa yang pertama harus kupanggil?” beliau berkata, “Terserah padamu.” Maka aku pun pergi menemui Ali ra dan kukatakan, “Pamanku tadi memanggilmu.” Ali ra bertanya, “Apakah ia juga memanggil yang lain selainku? Jawabku, “Benar.” Ali ra bertanya, “Siapa?” Jawabku, “Utsman bin Affan ra.” Ali ra bertanya lagi, “Siapa yang ia panggil pertama kali di antara kami? Jawabku, “Beliau tidak menyuruhku seperti itu, tetapi ia katakan terserah padamu siapa yang terlebih dahulu engkau panggil dan akhirnya aku mendatangimu.” Maka Ali ra pun pergi keluar bersamaku.

Tatkala kami melintasi rumah Utsman bin Affan ra Ali ra duduk dan aku masuk ke dalam rumah, aku dapati beliau sedang melaksanakan shalat witir ketika menjelang fajar. Lantas ia bertanya sebagaimana yang ditanyakan ali ra kepadaku, lantas ia pun keluar. Kemudian kami menghadap kepada pamanku yang sedang melaksanakan shalat. Ketika selesai mengerjakan shalat, beliau mendatangi Ali ra dan Utsman ra seraya berkata, “Sesungguhnya aku telah bertanya kepada masyarakat tentang kalian berdua dan tidak seorang pun dari mereka yang lebih mengistimewakan antara kalian berdua. Kemudian beliau mengambil perjanjian dari mereka berdua jika menempati jabatan tersebut harus bersikap adil dan jika tidak maka ia harus mendengar dan menaati.

Lantas Abdur Rahman membawa mereka ke masjid. Waktu itu Abdur Rahman memakai sorban serban yang dipakai Rasulullah saw sambil membawa pedang. Beliau mengutus ke tengah-tengah masyarakat Muhajirin dan anshar lalu diserukan untuk shalat berjamaah. Maka masjid menjadi penuh dan orang-orang saling berdesakan sehingga tidak ada tempat bagi Utsman ra untuk duduk kecuali di tempat paling belakang –beliau adalah seorang pemalu- Kemudian Abdur Rahman ra naik ke atas mimbar Rasulullah saw dan beridiri sangat lama sambil berdoa dengan doa yang sangat panjang dan tidak terdengar oleh banyak orang banyak lalu berkata, “Wahai sekalian manusia! Aku telah menanyakan keinginan kalian baik secara pribadi maupun di depan umum, namun aku tidak dapati seorang pun yang condong kepada salah seorang di antara mereka berdua baik Ali ra maupun Utsman ra. Wahai ali ra kemarilah!”

Maka bangkitlah Ali ra dan berdiri di bawah mimbar kemudian Abdur Rahman memegang tangannya seraya berkata, “Apakah engkau mau dibai’at untuk tetap setia menjalankan al-Qur’an, sunnah NabiNya dan apa yang telah dilakukan oleh Abu Bakar ra dan Umar ra?” Ali ra Menjawab, “Tidak, akan tetapi akan aku jalankan sesuai dengan kemampuanku.” Lalu Abdur Rahman melepaskan pegangannya dan memanggil Utsman, “Wahai Utsman ra kemarilah!” Maka Utsman pun bangkit dan tangannya dipegang oleh Abdur Rahman lalu bertanya, “Apakah engkau mau dibai’at untuk tetap setia menjalankan al-Qur’an, Sunnah NabiNya dan apa yang telah dilakukan oleh Abu Bakar ra dan Umar ra?” Utsman menjawab, “Ya!” Lantas Abdur Rahman menengadahkan kepalanya ke atap masjid sambil memegang tangan Utsman ra dan berkata,”Ya Allah dengarkanlah dan saksikanlah, Ya Allah dengarkanlah dan saksikanlah, Ya Allah dengarkanlah dan saksikanlah, Ya Allah sesungguhnya aku telah alihkan beban yang ada di pundakku ke pundak Utsman bin Affan ra. “Maka orang-orang pun berdesak-desakkan untuk membai’at sehingga beliau dikerumuni oleh orang-orang di bawah mimbar. Abdur Rahman duduk di tempat yang biasa diduduki oleh Rasulullah saw dan menundudukkan Utsman ra di bawahnya yakni di tangga mimbar yang ke-dua. Berdatanganlah orang-orang kepada Utsman ra untuk membai’atnya dan Ali ra adalah orang pertama yang membai’atnya.

Penulisan Mushaf Al-Qur’an

Di antara jasa beliau yang besar dan kebaikan beliau yang agung, nahwa beliau telah menyatukan kaum muslimin pada satu qira’ah dan dituliskannya bacaan al-Qur’an terakhir yang diajarkan oleh Jibril kepada Rasulullah saw yakni ketika Jibril mendiktekan al-Qur’an kepada Rasulullah saw pada tahun terakhir masa hidup beliau.

Sebabnya, bahwa Hudzaifah bin al-Yaman ikut serta dalam beberapa peperangan. Pada pasukan tersebut berkumpul orang-orang dari Syam yang mengambil bacaan dari Qira’ah al-Miqdad bin al-Aswad dan Abu Darda’ dan sekelompok penduduk iraq yang mengambil bacaan dari Qira’ah Abdullah bin Mas’ud dan Abu Musa. Bagi yang tidak mengetahui bahwa al-qur’an diturunkan dengan tujuh bacaan, mengutamakan bacaannya daripada bacaan yang lain atau sampai pada pengkafiran. Hal itu membuka jurang perselisihan sehingga tersebarlah ucapan-ucapan jelek di kalangan masyarakat. Maka berangkatlah Hudzaifah bin al-Yaman menghadap Utsman bin Affan ra dan berkata, “Ya Amirul Mukminin! Benahi umat ini sebelum mereka berselisih mengenai kitab mereka sebagaimana perselisihan yang terjadi di kalangan orang-orang Yahudi dan Nasrani mengenai kitab mereka.” Kemudian Hudzaifah menceritakan apa yang ia saksikan mengenai perselisihan yang terjadi di tengah kaum muslimin.

Pada saat itu Utsman bin Affan ra mengumpulkan para sahabat dan megajak mereka untuk memusyawarahkan perkara tersebut. Ia berpendapat bahwa Al-Qur’an harus ditulis dalam satu Qira’ah (bacaan) dan menyatukan seluruh daerah pada satu becaan saja untuk menghentikan perselisihan dan menghindari perpecahan.

Beliau meminta lembaran-lembaran al-Qur’an yang dulu dipakai Abu Bakar ash-Shiddiq ra dan memerintahkan Zaid bin Tsabit untuk mengumpulkannya. Lembaran ini dipakai Abu Bakar ra ketika masih hidup kemudian dipakai oleh Umar bin Khaththab. Setelah Umar ra wafat, lembaran-lembaran al-Qur’an tersebut berada di tangan Hafshah Ummul Mukminin. Lantas Utsman ra memintanya dan memerintahkan Zaid bin Tsabit al-Anshary untuk menuliskannya dengan didiktekan oleh Sa’id bin ‘Ash al-Umawy dengan disaksikan oleh Abdullah bin Zubair al-Asady, dan Abdur Rahman bin Harits bin Hisyam al-Makhzumy. Beliau memerintahkan juga jika mereka berselisih pendapat maka tulislah yang sesuai dengan bahasa Arab Quraisy.

Maka ditulislah satu mushaf al-Qur’an untuk penduduk Syam, satu mushaf al-Qur’an untuk penduduk Mesir, satu mushaf al-Qur’an dikirim ke Bashrah, satu mushaf al-Qur’an dikirim ke Kufah, begitu juga ke Mekkah dan Yaman dan satu mushaf al-Qur’an untuk Madinah.

Mushaf-mushaf ini disebut dengan Mushaf al-aimmah atau al-Utsmaniyah. Mushaf tersebut bukan hasil tulisan Utsman ra tetapi tulisan Zaid bin Tsabit al-Anshary. Diakatakan MUshaf al-Utsmaniyah karena ditulis berdasarkan perintah beliau, pada zaman pemerintahan Utsman.

Kemudian Utsman bin affan ra mengumpulkan semua mushaf yang berdar di kalangan masyarakat yang berbeda dengan mushaf tersebut lalu membakarnya agar tidak lagi timbul perselisihan.

Penaklukan Pada Masa Usman bin Affan RA

Pada masa khalifah Umar bin Khatthab. Tentara Islam telah menaklukan Irak, Persia, Siria, dan Mesir. Akan tetapi di tengah negeri itu tidak dijalankan hukum Islam karena menurut perjanjian dengan ahli negeri, mereka akan tetap bekerja dan beramal secara yang lama.

Ketika Umar meninggal dunia, di antara negeri-negeri itu ada yang tidak suka menurut perjanjian dan ada pula yang mengadakan pemerintahan sendiri. Pada permulaan soal yang dihadapi oleh oleh Usman adalah mengembalikan keamanan, dan menaklukkan kaum yang memberontak. Sesudah masalah kemanan sudah diselesaikan, dan setelah kaum yang memberontak taat kembali kepada pemerintahan Islam, maka Usman mulai mengatur tentaranya untuk menaklukkan negeri yang masih belum takluk, yaitu Persia, Khazaz, dan Armenia.

Penaklukkan Syam

Pada permulaan Usman menjadi khalifah, ia menetapkan Mu’awiyah bin Abi Sofyan sebagai pemimpin dan kepala pemerintahan di Syam. Mu’awiyah terus berjuang di darat dan di laut. Peprangan itu berjalan dengan hebat hingga sampai ke Umuriyah, Thanthus dan Anthakiyah. Peperangan itu membawa taklukknya negeri-negeri tersebut dan dapat menaklukkan pula Pulau Qibrus. Usman mengirimkan pula Habib bin Silmah ke negeri Armenia hingga negeri itu takluk. Penaklukkan itu sampai ke Taplis.

Peperangan Laut

Khalifah Usman merasa perlu untuk mengadakan angkatan laut yang kuat. Karena itu, Usman memerintahkan kepada Mu’awiyah untuk membuat kapal perang. Pekerjaan itu diserahkan kepada Abdullah bin Qais. Setelah kapal-kapal itu selesai, maka tentara Islam memerangi musuh sampai 50 kali. Dalam peperangan itu tidak ada kapal umat Islam yang karam.

Iskandariyah Membatalkan Janji

Pada waktu Iskandariyah ditaklukkan, ahli negerinya mengadakan perjanjian membayar pajak dan mereka tetap dalam keadaaan yang merdeka dalam urusan agama, adat istiadat, dan pejabat-pejabat pemerintah tetap di tangan mereka. Hanya mereka di bawahperlindungan Islam. Pada tahun 25 Hijriah, mereka membatalkan perjanjian itu, dengan mengadakan pemberontakan. Sebab itulah Umar bin Ash (kepala pemerintah Islam di Mesir) berjalan ke sana untuk menaklukkan kaum itu. Sesudah diadakan peperangan, akhirnya Iskandariyah tunduk.

Menaklukkan Afrika

Umar bin Ash adalah seorang pehlawan Islam yang berjiwa tinggi dan gagah berani. Ia belum puas dengan keadaan yang ada. Ia bercita-cita untuk menaklukkan wilayah Afrika. Pada tahun 26 Hijriah, Umar bin Ash menyuruh Abdullah bin Sa’ad untuk menakulukkan Afrika. Dan Abdullah dengan tentaranya berjalan ke sana. Sesudah terjadi peperangan, tentara Islam berhasil menaklukkan pantai Afrika. Kemudian khalifah Usman bin Affan mengirim bantuan tentara yang dipimpin oleh Abdullah bin Zubir hingga Abdullah dapat menaklukkan Afrika. Ia mengirimkan seperlima harta rampasan ke Madinah.pada masa Umar bin Khatthab, wilayah Mesir di bawah pimpinan Umar bin Ash, dan pada tahun 26 Hijriah, Khalifah Usman bin Affan mengangkat Abdullah bin Sa’ad sebagai kepala pemerintah di Mesir dan memberhentikan Umar bin Ash.

Peperangan Lautan

Sesudah Nabi Muhammad SAW wafat pada tahun 26 Hijriah, kaum Islam sudah dapat menaklukkan semua negara Arab dan Afrika. Kemajuan tentara Islam itu membuat takut kerajaan Romawi, sebab itulah raja Romawi menyiapkan 600 kapal perang untuk memerangi kaum Islam. Persiapan tentara Romawi itu, diketahui oleh Abdullah bin Sa’ad dan Mu’awiyah di Syam. Mereka berdua menyiapkan tentara darat dan laut. Di antara tentara Romawi dan tentara Islam, terjadilah peperangan yang hebat pada tahun 21 Hijriah. Dalam peperangan itu, banyak kapal perang Romawi yang dapat dirampas oleh Kaum Islam, dan karena itulah tentara Islam kuat di daratan dan di lautan.

Meninggalnya Usman bin Affan RA

Pada masa Usman, negara Arab dan Afrika sudah takluk. Rencana dalam peperangan dan pemerintahan dijalankan oleh Usman dengan adil dan bijaksana. Ia banyak menukar kepala daerah, kepala ibukota dengan yang lebih cakap dan adil. Tetapi hal itu dipandang setengah kaum Islam sebagai pekerjaan yang aniaya dan kejam. Karena itulah di antara pemimpin-pemimpin Islam meminta kepada Usman supaya membatalkan penghentian pemimpin-pemimpin itu. Permintaan itu ditolak oleh Usman, ia meneruskan cita-cita dan pekerjaannya. Karena itulah di antara pemimpin-pemimpin, kepala-kepala, dan kaum Islam yang berada di Mesir, Kufah dan Basrah ada yang menerangkan keluar dari khalifah dan mereka mengirim utusan ke Madinah. Sesampainya utusan itu di Madinah, mereka meminta kepada Usman supaya turun dari jabatan khalifah. Permintaan itu dijawab Usman dengan lemah lembut dan ia menyatakan tidak suka mengabulkan permintaan itu. Oleh sebab itu, mereka mengepung rumah Usman. Tahun 35 Hijriah bulan Dzulhijjah, kaum pemberontak itu memasuki rumah khalifah Usman, lalu membunuhnya. Khalifah Usman bin Affan meninggal dalam usia 80 tahun. Usman bin Affan menjabat sebagai khalifah selama 12 tahun kurang 1 hari.

Akhlak Khalifah Usman bin Affan RA

  • Khalifah Usman adalah seorang khalifah yang sangat pamalu. Dia dibesarkan di rumah tangga yang berbudi baik. Dia masuk Islam di tangan Abu Bakar. Pada awalnya, Usman menikah dengan Ruqoyah. Sesudah Ruqoyah meninggal dunia, Usman menikah dengan Ummi  Kultsum, keduanya anak Rasulullah SAW.
  • Ketika kaum Quraisy menyiksa kaum Islam di Makkah, Usman mengungsi ke Habsyah. Dalam segala peperangan dia ikut serta bersama Nabi, kecuali pada perang Badar karena istrinya yaitu Ruqoyah sakit dan meninggal sesudah Perang Badar.
  • Usman banyak mengeluarkan harta benda untuk ongkos peerangan. Dan dialah yang membeli telaga Romawi, kemudian diserahkannya kepada kaum Islam. Dialah seorang penulis wahyu.
  • Khalifah Usman sangat rendah hati, tidak sombong dan tidak takabur. Pada suatu malam, Usman tidur di Masjidil Haram. Sorbannya dijadikan bantal. Kemudian datang seorang laki-laki yang tidur di dekatnya, dan datang seorang lagi hingga mereka seperti satu golongan. Hingga ada bekas tikar tempat dia tidur pada badannya.
  • Urusan makanan rakyat, adalah satu hal yang sangat penting. Jika perut lapar, maka akan terjadi perampokan, pencurian dan pemberontakan kepada pemerintah. Karena demikian, Usman membagi-bagi tanah kepada petani supaya mereka dapat bertani.
  • Khalifah Usman yang menyuruh mengukir masjid.
  • Khalifah Usman yang memberi gaji kepada tukang.
  • Khalifah Usman mengatur penyusunan Qur’an seperti sekarang.
  • Dan dia membuat tempat untuk gedung pengadilan Negeri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jawaban Sang Kakek

Media Penyimpanan Data

Macam-Macam Sistem Operasi Komputer