Jawaban Sang Kakek

Langit masih gelap. Udara dingin sangat terasa menusuk tulang. Sesekali angin malam lewat di depan pohon-pohon hingga beberapa daunnya jatuh. Suara jangkrik dan burung hantu nyaring terdengar. Rumput-rumput mulai basah terkena embun yang sejuk. Lampu jalan yang remang-remang menyinari jalan setapak desa. Cahaya bulan juga ikut menyinari jalan yang gelap itu. Dari kejauhan terdengar sayup-sayup adzan subuh. Suara itu berasal dari sebuah masjid di pinggir desa. Suara adzan subuh merdu terdengar oleh siapa saja yang bangun kala itu. Keheningan malam perlahan mulai berhenti dengan suara adzan. Secara serentak suara adzan mulai menggema di langit yang masih gelap. Masjid-masjid yang sangat jauh letaknya  juga sudah mengumandangkan adzan, pertanda sholat subuh sudap siap untuk menarik hati hamba-hamba Allah yang ingin dekat dengan-Nya.

Seorang kakek berjalan di tengah kegelapan menuju masjid, ia hendak menunaikan kewajiban yang mulia. Langkahnya tegap, menunjukkan kalau ia masih sehat. Kakek itu berjalan dengan sandal yang karetnya sudah menipis. Jaket warna hitam menutupi badannya dari serangan angin malam yang masih lewat. Tangannya terasa dingin karena udara subuh. Peci berwarna hitam melekat di kepalanya. Mulutnya bergetar menahan dingin sambil terus mengucap nama Allah. Akhirnya ia sampai di masjid ketika iqomat hendak dikumandangkan.

Seperti biasa, setelah melaksanakan sholat kakek itu kemudian berdzikir. Kakek itu berdzikir sangat lama hingga tidak ada jamaah lagi yang tersisa kecuali ia. Selepas dari  masjid, kakek itu kembali ke rumahnya. Ia berjalan melalui jalan yang sama. Di rumahnya yang sederhana, sang kakek bersiap pergi ke ladang. Ladang itu diurus oleh lima orang rekannya. Disana, ia dan rekannya menanan cabai, jagung, singkong, dan bawang. Mereka mengurus ladangnya secara bergantian. Sang kakek mendapat jatah untuk menjaga ladang dari pagi hingga siang. Setelah siang, tiga orang lain yang mengurusnya hingga malam. Dengan penuh semangat, sang kakek berjalan dengan sandalnya sambil membawa keranjang untuk memanen hasil ladangnya.

Matahari sudah meninggi di atas kepala. Itu tandanya sang kakek harus kembali ke rumahnya. Kakek itu terlebih dahulu singgah di sebuah musholla untuk melaksanakan sholat dzuhur karena adzan sudah berkumandang. Ketika ia hampir sampai, beberapa orang berkerumun di halaman rumahnya. Ternyata pak kepala desa sedang melakukan kunjungan. Pak kades sedang melakukan pendataan warga miskin di wilayahnya. Dengan terburu-buru sang kakek menolak untuk didata sebagai warga miskin. Melihat sikap kakek itu, pak kades merasa heran. Pak kades tetap memasukkan sang kakek dalam daftar warga miskinnya, tanpa sepengetahuan sang kakek.

Esok siangnya, pak kades kembali datang sambil membawa empat karung kecil berisi bahan makanan. Sang kakek menolak secara halus pemberian pak kades. Pak kades tetap memberikan bantuan itu kepada sang kakek. Dua orang petugasnya langsung memasukkan karung itu ke dalam rumah sang kakek. Pak kades menjelaskan kalau bantuan itu berasal dari pemerintah kabupaten dan bantuan itu harus dibagi sesuai dengan data yang ada. Ia tak ingin ada bantuan yang tersisa karena takut dituduh melakukan korupsi. Mendengar penjelasan pak kades, sang kakek tak dapat menolak bantuan itu. Kemudian pak kades tersenyum sambil berlalu pergi menuju rumah yang lain.

Pagi-pagi buta pak kades berjalan menyusuri jalan setapak desa. Ia dan petugas desa lainnya membawa karung berisi bahan makanan yang belum selesai dibagi kemarin. Di tengah perjalanan, ia melihat sang kakek berjalan sambil memanggul tiga karung yang diberikannya kemarin. Kemudian pak kades menghentikan langkah sang kakek.

Loh, kenapa kakek membawa pergi tiga karung bantuan itu? Bukannya kakek sudah menerimanya kemarin?”, tanya pak kades.

“Ya, saya sudah menerimanya. Tapi saya sudah merasa cukup dengan satu karung bantuan yang diberikan pak kades kemarin”, jawab sang kakek.

“Lalu, kakek mau membawa karung-karung ini ke mana?”

“Saya hendak memberikannya ke orang-orang yang tidak mampu di desa sebelah. Barangkali mereka membutuhkan ini”

“Desa sebelah juga sedang melakukan hal yang sama seperti saat ini. Bantuan akan disebar di seluruh desa di kabupaten ini”, kata pak kades.

“Siapa tahu saja ada pengemis ataupun warga miskin di desa ini yang belum masuk dalam daftar pak kades”, kata sang kakek. Kemudian sang kakek buru-buru pergi sebelum pak kades sempat menjawab perkataannya. Sang kakek memberikan karung bantuan itu kepada dua orang warga miskin yang tinggal di dalam hutan. Rumah mereka sulit untuk dilihat dari jalan setapak desa karena tertutup oleh rimbunnya daun pepohonan. Pak kades juga luput untuk mendata mereka. Setelah itu sang kakek berjalan menuju perbatasan desa di sekitar aliran sungai. Ia menemukan sebuah rumah berdiri di sana. Rumah tersebut berada di area terluar dari kedua desa sehingga sulit untuk didata.

Pak kades dan para petugasnya sudah berdiri di depan rumah sang kakek. Mereka menunggu kedatangan sang kakek setelah selesai membagikan bantuan.

“Kek, saya minta waktu sebentar untuk bertanya dengan kakek”, kata pak kades.

“Silahkan pak kades” sahut sang kakek sambil mempersilahkan pak kades dan petugasnya untuk duduk.

“Mengapa kakek membagikan tiga karung bantuan itu kepada orang lain?”, tanya pak kades.

“Saya sudah cukup dengan satu karung pemberian pak kades. Masih banyak warga yang belum mendapatkan bantuan ini. Dan saya rasa perlu untuk membagikannya kepada mereka”, jawab kakek.

“Kami sudah melakukan pendataan sehingga kakek tak perlu khawatir dengan pembagian bantuan ini. InsyaAllah bantuan yang diberikan tepat sasaran karena kami selalu melakukan pembaruan data setiap enam bulan sekali. Kakek juga masuk daftar warga miskin di desa ini sehingga perlu memberi bantuan ini kepada kakek”, jelas pak kades.

“Tetapi saya tadi melihat masih ada beberapa warga yang belum mendapatkan bantuan ini. Mereka tinggal di wilayah desa ini yang sulit dijangkau sehingga luput dari pendataan yang dilakukan oleh pak kades. Walaupun saya masuk dalam daftar warga miskin, saya merasa diri saya tidaklah miskin”, kata sang kakek.

“Mengapa bisa begitu?”, tanya pak kades dengan heran.

“Allah SWT telah memberi saya banyak nikmat yang luar biasa. Nikmat itu berupa kesehatan dan kesempatan yang tidak ternilai harganya. Dan juga nikmat keimanan yang luar biasa sehingga saya selalu yakin dalam bekerja. Memang, saya tidak memiliki banyak harta untuk membeli banyak barang. Akan tetapi, Allah SWT menggantinya dengan kesehatan sehingga saya dapat bekerja dengan baik hingga di usia saat ini. Saya diberi nikmat kesempatan sehingga masih bisa berkumpul dengan orang-orang di sekitar saya, termasuk bertemu pak kades seperti sekarang ini”, jelas sang kakek.

Mendengar jawaban sang kakek, pak kades tersenyum. Ia begitu kaget dengan sikap sang kakek. Walaupun hidup dalam kemiskinan, sang kakek selalu bersyukur atas segala nikmat yang telah Allah berikan. Bagi sang kakek, setiap hari yang dilaluinya adalah sebuah anugrah yang telah Allah berikan kepadanya. Dengan bersyukur kepada Allah SWT, sang kakek merasa dirinya sangat kaya.

Nikmat yang tak terhitung dan ternilai harganya selalu Allah berikan kepada semua makhluk yang Ia ciptakan. Namun, masih sedikit manusia yang sadar akan nikmat itu. Sudah sepantasnya kita bersyukur kepada Allah SWT atas nikmat yang diberikan-Nya setiap waktu.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Media Penyimpanan Data

Macam-Macam Sistem Operasi Komputer