Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2012

Cara Memelihara Akhlak

Memelihara akhlak Dua unsur yakni akal dan nafsu sangat memepengaruhi hati, mata, lidah, dan telinga. Untuk   memelihara akhlak dan menumbuhkan sifat-sifat mulia, maka haruslah dipelihara anggota-anggota tubuh itu dengan sebaik-baiknya. Memelihara Hati Hati ialah segumpal darah dalam diri manusia yang mendapat sorotan (nur) dari Allah yang menjiwai manusia, memberikan pengertian-pengertian, perasaan-perasaan, yang mengendalikan kehidupan dalam hal perkataan dan perbuatan manusia itu. Pada hati manusia itu ada empat sifat yaitu sifat binatang buas, sifat binatang ternak, sifat syaithan, dan sifat ketuhanan. · Sifat binatang buas seperti sifat kotor, kejam, galak atau suka pemarah dan angkuh. · Sifat binatang ternak seperti sifat suka makan, suka melagak, bebal, sombong. · Sifat syaithan seperti sifat pendengki, pengkhianat, pengicuh, pemecah belah dan sifat buruk lainnya. · Sifat ketuhanan seperti sifat pengasih dan penyayang, bijaksana, rapi...

Tujuh Golongan Manusia yang Mendapat Pertolongan Allah SWT

Tujuh Golongan Manusia Yang Mendapat Pertolongan Allah SWT Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA bahwa Nabi SAW bersabda: “Ada tujuh golongan manusia yang Allah akan menangui mereka (di hari kiamat) dalam naunganNya pada hari yang tiada naungan kecuali hanya naunganNya yaitu pemimpin yang adil dan anak muda yang tumbuh/ menjadi dewasa dalam keadaan selalu mengabdi kepada Allah SWT dan seorang yang hatinya tergantung di masjid dan dua orang   yang kasih mengasihi karena Allah mereka berkumpul karena Allah dan berpisah karena Allah jua dan seorang laki-laki yang diajak zina oleh seorang perempuan yang berpangkat/ bangsawan lagi pula cantik tetapi ia menolak dan berkata Sungguh aku takut kepada Allah Dan seorang yang bersedekah dengan suatu sedekahan kemudian ia merahasiakannya hingga seolah-olah tangan kirinya tiada mengetahui apa yang diinfaqkan oleh tangan kanannya itu Dan seorang yang selalu ingat kepada Allah di kala berkholwat/ sendiri hingga kedua matanya mencucurkan air mata.” ...

Sejarah Tafsir dan Perkembangannya

Sejarah Tafsir dan Perkembangannya Secara etimologi, tefsir bisa berarti penjelasan, pengungkapan, dan menjabarkan kata yang samar. Adapun secara terminologi tafsir adalah penjelasan terhadap Kalamullah atau menjelaskan lafadz-lafadz al-Qur’an dan pemahamannya. Ilmu tafsir merupakan ilmu yang paling mulia dan paling tinggi kedudukannya karena pembahasannya berkaitan dengan Kalamullah yang merupakan petunjuk dan pembeda dari yang haq dan bathil. Ilmu tafsir telah dikenal sejak zaman Rasulullah saw dan berkembang hingga di zaman modern sekarang ini. Adapun perkembangan ilmu tafsir dibagi menjadi empat periode yaitu: Tafsir Pada Zaman Nabi Muhammad SAW Al-Qur’an diturunkan dengan bahasa Arab sehingga mayoritas orang Arab mengerti makna dari ayat-ayat Al-Qur’an. Sehingga banyak di antara mereka yang masuk islam setelah mendengar bacaan al-Qur’an dan mengetahui kebenarannya. Akan tetapi, tidak semua sahabat mengetahui makna yang tekandung dalam al-Qur’an,   antara satu denga...

Profil Khalifah Utsman bin Affan RA

UTSMAN BIN AFFAN RA Musyawarah dan kesepakatan untuk baiat beliau Umar ra menetapkan perkara pengangkatan khalifah di bawah Majelis Syura yang beranggotakan enam orang, mereka adalah: Utsman bin Affan ra, Ali bin Abi Thalib ra, Thalhah bin Ubaidillah ra, Az-Zubair bin Awwam ra, Sa’ad bin Abi Waqqash ra dan Abdur Rahman bin Auf ra. Umar ra merasa berat untuk memilih salah seorang di antara mereka. Beliau berkata, “Aku tidak sanggup untuk bertanggung jawab tentang perkara ini baik ketika aku hidup maupun setelah aku mati. Jika Allah SWT menghendaki kebaikan terhadap kalian maka Dia akan membuat kalian bersepakat untuk menunjuk seorang yang terbaik di antara kalian sebagaimana telah membuat kalian sepakat atas penunjukan orang yang terbaik setelah nabi kalian. Di antara yang menunjukkan kesempurnaan kewaraan beliau, beliau tidak memasukkan dalam anggota majelis syura tersebut Sa’id bin Zaid bin Amr bin Nufail karena ia adalah anak paman beliau. Beliau khawatir dia akan diangkat karena...

Kebijakan Abu Bakar Saat Menjadi Khalifah

Khulafaur Rasyidin Abu Bakar Ash-Shiddiq ra   Pidato Abu Bakar setelah menjadi khalifah Selepas dibaiat, Abu Bakar mulai berpidato setelah memuji Allah Pemilik segala pujian, “‘Amma ba’du, para hadirin sekalian sesungguhnya aku telah dipilih sebagai pimpinan atas kalian dan bukanlah aku yang terbaik, maka jika aku berbuat kebaikan bantulah aku. Dan jika aku beritndak keliru maka luruskanlah aku. Kejujuran adalah amanah, sementara ddusta adalah suatu pengkhianatan. Orang yang lemah di antara kalian sesungguhnya kuat di sisiku hingga aku dapat mengembalikan haknya kepadanya Insya Allah. Sebaliknya, siapa yang kuat di antara kalian maka dialah yang lemah di sisiku hingga aku akan mengambil darinya hak milik orang lain yang diambilnya. Tidaklah suatu kaum meninggalkan jihad di jalan Allah kecuali Allah akan timpakan mereka kehinaan, dan tidaklah suatu kekejian tersebar di tengah suatu kaum kecuali adzab Allah akan ditimpakan kepada seluruh kaum tersebut. Patuhilah au selama aku m...