Cerpen: Si Koki dan Pria Misterius

Seorang pria sedang sibuk di dapur rumahnya. Ia sedang belajar memasak makanan yang enak sebagai hidangan bagi keluarganya. Keringat keluar dari kulit di wajahnya  karena tak tahan dengan panas dari kompornya. Tangannya begitu cekatan memasukkan segala bumbu yang diperlukan untuk memasak. Tangannya lihai membalikkan penggorengan sehingga masakannya matang sempurna. Aroma lezat telah memenuhi seluruh ruangan di rumah. Anggota keluarganya tak sabar untuk menikmati hidangan spesial ini. Setelah semuanya beres, ia kemudian memindahkan masakannya ke piring hidangan. Dengan perlahan ia memindahkannya. Tak lupa ia memberi hiasan manis di setiap piring masakannya. Anggota keluarga sudah siap dengan sendok dan garpunya. Layaknya audisi memasak, si pria tak sabar dengan komentar dan penilaian dari anggota keluraganya. Mereka semua mengacungkan jempol untuk si pria. Ia sangat senang dengan hasil itu. Latihan memasak kali ini merupakan bekal bagi dirinya sebelum ia membuka rumah makan. Si pria adalah koki yang telah belajar memasak berbulan-bulan agar dapat membuka rumah makannya sendiri.

Hari pertama dibuka, rumah makan itu ramai dikunjungi orang. Maklum saja, namanya sudah terkenal lewat acara kuliner di TV. Ia berhasil memikat hati sang pembawa acara agar menyukai masakannya. Orang-orang sudah memenuhi ruangan rumah makan yang kecil itu. Suara sendok yang beradu dengan garpu terdengar nyaring dari rumah makan itu. Pengunjung merasa puas dengan rasa makanan yang begitu lezat.

Ketika pengunjung sudah banyak yang selesai makan di tempat itu, tiba-tiba datang seorang laki-laki tua berbadan tinggi. Ia berjalan dengan tegap. Tatapannya dingin dan terlihat tanpa ekspresi. Dengan nada datar ia memesan masakan yang tidak ada di menu. Si koki menyanggupinya. Pria itu memilih makan di meja bagian ujung dekat dengan pintu keluar. Sambil menunggu masakannya datang, ia sesekali melihat jam tangannya. Tak lama kemudian masakannya tiba. Si koki sendiri yang membawa masakannya ke pria itu. Penutup makanan dibuka, dan aroma masakan mulai keluar. Pria itu mengambil sendok dan perlahan mulai mencicipinya. Ketika hendak kembali ke dapur, si koki dipanggil oleh pria itu. Pria itu mengatakan bahwa masakannya masih kurang pantas untuk dibilang lezat. Mendengar hal itu, si koki merasa kaget. Ia menunggu pria itu sambil berdiri di sampingnya sampai ia selesai makan. Setelah merasa kenyang, pria itu berdiri dan kemudian berbisik pada si koki, “Hendaknya kau memasukkan masakan ini dalam menumu”. Si koki merasa heran. Ia mengambil sendok dan kemudian mencicipi sisa masakannya yang masih ada di piring. Ia setuju dengan perkataan pria itu. Masakannya kurang garam dan terasa agak hambar.

Seminggu berlalu dan pria misterius itu datang kembali. Ia melakukan hal yang sama seperti pertama kali ia datang ke tempat itu. Ia memesan makanan yang tidak ada di menu dan duduk di paling ujung. Si koki yang menghidangkan makanan untuknya, tetap berdiri di samping pria itu. Ia mengatakan bahwa masakannya masih kurang enak. Dengan rasa heran, si koki membersihkan meja makan yang tadi dipakai pria itu. Ia tak lupa mencicipi masakan yang masih tersisa di piring.

Setiap seminggu sekali pria tua itu selalu datang ke rumah makan milik si koki. Ia melakukan hal yang sama berulang kali hingga si koki hafal dengan sikap dan perilakunya. Namun si koki tidak pernah bosan untuk mendengar komentar-komentar pedas dari pria itu. Si koki selalu menyanggupi permintaan pria itu untuk dibuatkan masakan yang tidak ada di menu.

Waktu terus berjalan hingga akhirnya si koki menyewa suatu ruangan besar di pusat kota sebagai tempat untuk restorannya. Pengunjung yang datang semakin banyak, sehingga ia harus menyewa tempat baru itu sebagai rumah makan. Masakan yang ada di menu juga semakin banyak. Banyak orang yang mengusulkan ke koki itu untuk menambah daftar masakan di menunya, tak terkecuali pria misterius itu. Si koki berpikir bahwa pria misterius itu tidak akan datang ke restorannya yang baru. Ketika si koki sudah membereskan semuanya, pria misterius itu datang. Tak ingin mengecewakan pelanggannya, si koki kemudian memasak makanan yang dipesan pria itu. Permintaannya sama, yaitu masakan yang tidak ada di menu. Walaupun agak lama menunggu, pria itu tetap sabar duduk di kursinya. Si koki tetap mendapat komentar klasik dari pria itu. Komentar itu membuatnya merasa heran dan juga bingung.

Minggu ini, pria misterius itu tak datang ke restoran si koki. Akan tetapi yang datang adalah seorang pengemis dengan pakaian compang-camping. Ia berjalan dengan tongkat lapuknya dan tas yang lusuh. Pengemis itu meminta si koki untuk memasak daging sapi rasa pedas manis, masakan yang ada dalam menunya. Tanpa pikir panjang, si koki langsung memasak dan menghidangkannya di meja makan pengemis itu. Ia tidak memakai sendok ataupun garpu untuk makan, melainkan langsung menggunakan tangan. Si koki mempersilahkan pelanggan lainnya untuk pindah tempat jika keberatan makan di dekat pengemis itu. Setelah selesai makan, pengemis itu memberi si koki uang yang jumlahnya lebih banyak daripada harga makanan yang dipesannya. “Simpan saja kembaliannya”, kata pengemis itu.

Seminggu berikutnya, pria misterius itu datang lagi. Tak seperti biasanya, ia mempersilahkan si koki untuk duduk di hadapannya setelah ia selesai makan. Ia bercerita panjang lebar tentang kedatangannya selama ini. Pria itu menyampaikan beberapa pesan penting kepada si koki.


“Aku akan meyampaikan beberapa pesan penting untukmu. Pertama, jangan pernah sombong dan merasa tinggi hati dengan prestasi dan pencapaianmu selama ini. Kau telah memberikan tinta emas dalam catatan karirmu, jangan sampai catatan itu terhapus oleh kesombongan. Kedua, berbuat baiklah kepada siapa saja. Tidak perlu memandang ia orang kaya ataupun miskin, kau harus berbuat baik kepadanya. Kau juga harus membantu siapa saja yang butuh bantuanmu. Ketiga, selalu introspeksi diri terhadap apa yang telah kau lakukan selama satu hari, satu minggu, bahkan satu tahun. Jangan lakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya. Kau harus memperbaiki kesalahan itu dengan prestasi. Keempat, lihatlah orang dari sikap dan hatinya bukan dari penampilannya”, kata pria itu.  Kemudian pria itu melanjutkan perkataannya, “Pengemis yang datang minggu lalu itu adalah aku. Aku berterima kasih kepadamu karena telah memberikan pelayanan yang terbaik kepadaku. Kau telah memperbaiki segala kekurangan dan kesalahan yang telah kau perbuat. Aku melakukan ini tidak hanya kepada kau saja, melainkan banyak orang. Ada yang tidak terima bahkan mengusirku dengan cara yang tidak pantas. Dan selamat untuk kau yang lolos ujianku”. Pria itu berjabat tangan dengan si koki yang merasa senang dan terharu.  Selama ini, pria itu selalu mengetesnya hingga kini ia berhasil mengembangkan usaha restorannya. Daftar menunya bertambah dan kualitasnya meningkat. Ia merasa kemampuan dirinya semakin terasah dengan komentar-komentar pria itu. Sebagai ucapan terima kasih, si koki kembali menghidangkan makanan untuk pria itu. Makanan yang tidak ada dalam daftar menu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Media Penyimpanan Data

Macam-Macam Sistem Operasi Komputer

Jawaban Sang Kakek