Cerpen: Kisah Kerajaan Emas
Kerajaan Emas berdiri dengan wilayah kekuasaan yang
sangat luas. Wilayahnya meliputi pegunungan, hutan, sungai, bahkan pantai.
Kerajaan Emas memiliki pasukan militer yang sangat kuat. Prajuritnya gagah dan
berani. Mereka pandai dalam strategi perang dan lihai dalam memainkan pedang
saat perang. Penduduknya pun beragam. Ada yang bekerja sebagai kuli bangunan.
Di wilayah dekat pantai, penduduknya bekerja sebagai nelayan. Ada pula yang
berkebun di wilayah pegunungan. Kegiatan perdagangan berlangsung sangat ramai
di pusat ibu kota. Di ibu kota inilah berdiri istana Kerajaan Emas yang megah.
Hampir di setiap sudut istana ini terdapat hiasan dan pajangan yang terbuat
dari Emas. Bahkan di beberapa lorong istana, temboknya dilapisi oleh emas yang
berkilau. Semua rakyat sangat tunduk kepada perintah Sang Raja. Mereka tidak
berani melawan terhadap perintah raja yang menyimpang karena Sang Raja tak
segan-segan untuk menghukum siapa saja yang melawan. Sang Raja hidup bersama
dengan seorang istri dan seorang anak. Anaknya telah tumbuh besar dan telah
memasuki usia remaja. Anaknya dikenal sebagai salah satu pemuda yang tangguh di
Kerajaan Emas. Tak hanya pandai dalam latihan perang, ia juga pandai dalam ilmu
pengetahuan. Ia berhasil meraih nilai terbaik selama sepuluh tahun bersekolah.
Di tengah istana yang megah ini, ia merasa kurang
bahagia. Entah hal apa yang membuatnya tak bahagia, walaupun Sang Raja telah
memberikan apapun kepadanya. Ia merasa hidupnya ada sesuatu yang kurang. Sang
Pemuda berdiri di depan jendela istana, memandang ke seluruh penjuru kerajaan.
Rakyat kerajaan terlihat seperti semut yang berkerumun di tengah pasar. Pasar
itu terlihat sangat kotor, padahal di dalam istana kebersihan adalah salah satu
hal yang utama. Di sudut lain ia melihat banyak pengemis duduk berjajar di
pinggir jalan yang ramai. Jalan tersebut sangat ramai dilalui oleh pedati yang
keluar masuk pasar. Pengemis-pengemis tersebut tidak beranjak dari tempatnya,
walaupun matahari sudah meninggi di atas kepala mereka. Hanya kain yang dijadikan
sebagai penutup kepala untuk menghalau panas yang kian menyengat. Sang Pemuda
hanya menggelengkan kepalanya saat melihat pihak keamanan yang tidak jauh dari
pasar. Tiga orang pengaman kerajaan hanya duduk-duduk santai dan tidak
mengawasi keadaan di pasar. Ia berpikir bahwa kerajaan bisa kacau dan mudah
diserang oleh musuh jika keadaannya
tidak berubah.
Pada suatu malam, sang pemuda diam-diam keluar dari
istana. Ia keluar melalui jalan rahasia yang telah ia buat beberapa hari lalu.
Pengawas kerajaan tidak mengetahui usaha Sang Pemuda untuk keluar dari istana.
Sebelum meninggalkan istana ia membuat sebuah surat yang ditujukan untuk ayah
dan ibunya. Surat itu ia selipkan di bawah bantal tempat tidurnya. Sang pemuda
akan pergi ke Kerajaan Kayu untuk menemui kawan lamanya yang tinggal di sana. Kawannya
selalu memberikan semangat kepadanya untuk belajar dan berlatih. Ia juga selalu
menasehati Sang Pemuda untuk tidak sombong dan tamak terhadap apa yang ia
miliki. Sang Pemuda berjalan menyusuri jalan yang gelap dengan obor yang
remang-remang. Ia berharap besok pagi sudah tiba di Kerajaan Kayu.
Setelah menyebrangi dua sungai besar, Sang Pemuda sampai
di Kerajaan Kayu. Ia kagum dengan kerajaan kecil itu. Semua rakyatnya terlihat
bahagia dan senang membantu. Tidak ada pengemis di sepanjang jalan yang ia
lalui. Pasar terlihat bersih dan tidak kumuh. Semua orang bekerja sesuai
profesinya. Ia heran melihat istana kerajaan yang sangat sederhana. Istana itu
dibangun menggunakan kayu dan tidak semegah istana di Kerajaan Emas. Istana
kayu dikelilingi oleh pohon-pohon besar sebagai temboknya dan pagar kayu
sebagai pembatasnya.
Akhirnya Sang Pemuda berjumpa kawan lamanya. Kemudian
mereka duduk di ruang tamu dengan kursi dan meja bundar. Teh hangat menemani
perbincangan mereka berdua. Sang Pemuda menyampaikan keluh kesahnya kepada
kawannya itu. Ia menceritakan segalanya dan berharap mendapat nasehat dari
kawannya itu. Setelah lama berbincang, mereka beristirahat sambil meminum teh
hangat yang sudah mulai dingin. Kawan
Sang Pemuda terlihat sedang menulis sebuah surat. Suratnya sangat panjang
hingga ia memakai dua lembar kertas. Sang pemuda menatap langit, memikirkan
kondisi kerajaannya. Ketika hendak pamit, Sang Pemuda diberi surat oleh
kawannya. Kawannya berpesan untuk memberikan surat itu kepada ayahnya. Sang
Pemuda bergegas pergi sebelum matahari mulai tergelincir.
Ia sampai ke Kerajaan Emas pada siang hari. Penjaga
istana mengawalnya masuk ke istana. Tak lupa ia menyerahkan surat titipan
kawannya kepada ayahnya. Sang Raja tersenyum membaca surat yang panjang itu. Ia
memberitahu Sang Pemuda, bahwa kawannya itu adalah raja di Kerajaan Kayu. Sang
Pemuda tak percaya dengan apa yang dikatakan ayahnya. Kawannya adalah raja,
namun ia tidak tinggal di istana kayunya. Ia hanya tinggal di sebuah rumah
kecil di pinngir kota. Begitu sederhana hidup kawan Sang Pemuda hingga Sang
Raja tersenyum membaca isi suratnya. Sang Raja berencana untuk menata ulang
pemerintahannya yang berjalan kurang baik. Sang Pemuda juga akan membantu
ayahnya memperbaiki semangat para prajuritnya yang mulai melenceng karena
memiliki wilayah yang sangat luas.
Sang Raja pun sadar bahwa wilayah yang luas bukan jaminan
kebahagiaan bagi anaknya dan rakyatnya, akan tetapi keberkahan dari setiap apa
yang ia miliki.
Komentar
Posting Komentar