Nilai Sebutir Nasi

Nilai Sebutir Nasi

Seekor semut keluar dari sarangnya pada pagi hari. Ia bersama dengan kelompok semut yang lain mencari makanan sebagai persediaan menjelang musim dingin. Semut kecil ini terus melihat sekelilingnya, berharap ada bagian dari tumbuhan ataupun sesuatu yang bisa dimakan. Sekarang mereka telah sampai di kebun sayur. Mereka mengambil bagian daun yang jatuh di tanah. Setelah itu mereka memotong daun tersebut sampai ukuran yang sangat kecil. Semua semut dari kelompok itu mendapat bagian daun yang sama besar.

Karena persediaan makanan masih kurang, mereka kemudian pergi untuk mencari makanan kembali. Kali ini mereka akan mencari makanan yang jaraknya cukup jauh. Kelompok semut ini memutuskan untuk mencari makan di dalam rumah sang pemilik kebun sayur. Dengan bergegas mereka pergi ke sana. Mereka masuk melalui celah dinding kemudian melewati celah jendela yang ada di ruang makan. Di meja makan tersaji berbagai makanan lezat yang siap disantap sang pemilik kebun.

“Ayo sekarang kita harus pergi ke meja makan!”, kata seekor semut mengajak temannya yang lain.

“Tunggu dulu, kita harus bersabar”, teriak pemimpin rombongan semut. “Kita tidak boleh rakus terhadap makanan. Ingat! Makanan yang kita ambil bukanlah milik kita seluruhnya”, tambahnya.

Pemimpin semut sangat yakin bahwa makanan yang akan diperolehnya bukanlah milik ia dan kelompoknya. Makanan itu adalah rezeki dari Allah ta’ala yang diberikan kepada mereka melaui perantara sang pemilik kebun. Ia sadar bahwa makanan yang akan dimakannya hanyalah sebagian kecil dari yang tersaji di meja makan. Ia hanya makan sisa-sisa makanan yang jatuh ke lantai atau yang sedikit tersisa di piring. Ia juga sadar bahwa makanannya ini harus dibagikan kepada kelompok semut yang lain.

“Makanan ini juga harus dibagi kepada kelompok semut lain. Siapa tahu saja mereka tidak mendapatkan makanan untuk hari ini”, nasehat pemimpin semut kepada anggota kelompoknya.

Setelah menunggu cukup lama, akhirnya pemilik kebun mengakhiri makannya. Pemilik kebun masih belum beranjak dari kursinya karena perutnya telah terisi dengan makanan dan ia tak sanggup untuk berdiri.

“Orang itu telah selesai makan, ini saatnya bagi kita untuk mengambil sisa makanan yang ada di bawah meja!”, komando pemimpin semut.

Mereka mengambil sisa makanan dengan tertib dan sabar. Mereka yakin akan mendapatkan jatah yang sama banyak. Pemimpin semut mendahulukan anggotanya untuk mengambil makanan. Ya, pemimpin semut tidak ingin anak buahnya ada yang tidak mendapatkan makanan. Ini sudah menjadi tanggung jawab bagi dirinya untuk mengatur rombongan semut agar mendapatkan bagian makanan yang sama.

Ketika anggotanya bergegas pergi, ia melihat sebutir nasi belum diambil oleh anggotanya.

“Teman-teman! Jangan pergi sampai ada yang mengambil sebutir nasi ini!”, teriaknya.

“Itu kan hanya sebutir nasi. Lagi pula itu tidak cukup jika dibagi secara merata kepada semua anggota yang ada di rombongan ini”, balas seekor semut.

“Memang sebutir nasi ini tidak cukup jika dibagi kepada semua anggota di rombongan ini. Tetapi, teman-teman kita di sana pasti membutuhkan ini. Jangan sampai kita menyia-nyiakan nikmat Allah yang telah diberikan kepada kita”, kata pemimpin semut.

Kemudian pemimpin semut menyuruh anggotanya untuk membawa sebutir nasi itu. Di tengah perjalanan pulang, langit berubah menjadi kelabu. Angin berhembus kencang dan udara menjadi dingin. Hujan deras akan segera turun. Satu-persatu butiran hujan menghujam tanah. Butir air hujan itu semakin banyak hingga membasahi tubuh mereka.

“Tenang kawan-kawan, kita akan sampai ke sarang tepat waktu. Jangan panik dan tetap berhati-hati”, kata pemimpin semut mengarahkan rombongannya.

Akhirnya mereka sampai di sarang tepat pada waktunya. Rombongan semut yang lain telah sampai di sarang lebih dahulu. Hujan yang sangat deras membuat sarang mereka menjadi dingin. Sekarang mereka dalam kondisi lapar dan butuh makanan untuk menghangatkan diri mereka.

Makan besar berlangsung di sarang mungil ini. Semua merasa senang dan gembira dengan makanan yang mereka dapat hari ini. Akan tetapi ada seekor semut yang tidak makan. Makanan yang dibawanya hanyut terkena air hujan. Melihat keadaan ini, pemimpin semut ingat dengan sebutir nasi yang dibawa oleh rekannya. Ia kemudian memberi semut itu sebutir nasi. Semut itu merasa sangat senang dengan pemberian pemimpin semut. Sekarang ia mengerti bahwa setiap nikmat yang ia peroleh tidak boleh disia-siakan.

Begitulah kisah sebuah kelompok semut. Banyak hikmah yang bisa kita ambil dari kisah ini. Walaupun hanya seekor semut, namun kita dapat meniru sikap baiknya dalam kehidupan sehari-hari.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jawaban Sang Kakek

Media Penyimpanan Data

Macam-Macam Sistem Operasi Komputer