Renungan: Tujuh Tanda Matinya Hati
Di antara tanda hati yang sakit adalah seorang hamba sulit untuk merealisasikan tujuan penciptaan dirinya, yaitu untuk mengenal Allah SWT, mencintai-Nya, rindu untuk bertemu dengan-Nya dan memprioritaskan seluruh hal tersebut daripada seluruh syahwatnya. Akhirnya hamba yang sakit hatinya lebih mendahulukan syahwat daripada menaati dan mencintai Allah SWT sebagaimana difirmankan Allah 'azza wa jalla, "Terangkanlah kepadaKu tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara di atasnya?" (QS. Al Furqan ayat 43)
Beberapa ulama salaf menafsirkan ayat ini dengan mengatakan, "Orang yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah dia yang senantiasa menunggangi hawa nafsunya, sehingga kehidupan yang dijalaninya di dunia ini layaknya kehidupan binatang ternak, tidak mengenal Rabb-nya 'azza wa jalla, tidak beribadah kepada-Nya dengan melaksanakan perintahNya dan menjauhi larangan-Nya, persis seperti firman Allah taala yang artinya, "Dan orang-orang kafir bersenang-senang di dunia dan mereka makan seperti makannya binatang. Dan Jahannam adalah tempat tinggal mereka" (QS. Muhammad ayat 12)
Pada akhirnya, balasan sesuai dengan perbuatan, sebagaimana di dunia dia tidak menjalani kehidupan yang dicintai dan diridhai Allah 'azza wa jalla, dia menikmati seluruhnya dan hidup menggunakan nikmat Allah SWT untuk bermaksiat kepada-Nya, maka demikian pula di akhirat kelak, dia akan menjalani kehidupan yang tiada kebahagiaan di dalamnya, dirinya tidak akan mati sehingga terbebas dari adzab yang menyakitkan.
"Diminumnya air nanah itu dan hampir dia tidak bisa menelannya dan datanglah (bahaya) maut kepadanya dari segenap penjuru, tetapi dia tidak juga mati, dan dihadapannya masih ada azab yang berat" (QS. Ibrahim ayat 17)
Diantara tanda hati yang sakit adalah pemiliknya tidak merasa terluka akibat tindakan-tindakan kemaksiatan sebagaimana kata pepatah "tidaklah menyakiti, luka yang ada pada mayat. Hati yang sehat akan merasa sakit dan terluka dengan kemaksiatan, sehingga hal ini melahirkan taubat dan inabah kepada Rabb-nya 'azza wa jalla. Hal ini sebagaimana firman Allah ta'ala, "Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka malihat kesalahan-kesalahannya" (QS. Al-'Araf ayat 201)
Allah berfirman ketika menyebutkan karakter orang beriman, "dan juga orang-orang yang pabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu. sedang mereka mengetahui" (QS. Ali Imran ayat 135). Maksudnya adlaah ketika mereka bermaksiat, mereka mengingat Allah 'azza wa jalla, ancaman dan siksa yang disediakan olehNya bagi pelaku kemaksiatan, sehingga hal ini mendorong mereka untuk beristighfar kepada-Nya.
Penyakit hati justru menyebabkan terjadinya kontinuitas keburukan seperti yang dikemukakan oleh al-Hasan ketika menafsirkan firman Allah, "Sekali-kali tidak demikian, sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka" (QS. Al Muthaffifin ayat 14). Beliau mengatakan, "hal itu (rahn) adalah dosa di atas dosa yang membutakan hati. Adapun hati yang salim justru akan melahirkan perbuatan yang baik setelah dulunya berbuat dosa."
Di antara tanda penyakit hati adalah pemiliknya tidak merasa risih dengan kebodohannya terhadap kebenaran. Hati yang salim akan merasa resah jika muncul syubhat di hadapannya, merasa sakit dengan kebodohan terhadap kebenaran dan ketidaktahuan terhadap berbagai keyakinan yang menyimpang. Kebodohan merupakan musibah terbesar, sehingga seorang yang memiliki kehidupan di dalam hati akan merasa sakit jika kebodohan bersemayam di dalam hatinya. Sebagian ulama mengatakan, "Adakah dosa kemaksiatan kepada Allah yang lebih buruk daripada kebodohan?" Imam Sahl pernah ditanya, "Wahai Abu Muhammad, adakah sesuatu yang lebih buruk daripada kebodohan? Dia menjawab, "Bodoh terhadap kebodohan" Kemudian ada yang berkata, "dia benar, karen hal itu akan menutup pintu ilmu sam sekali."
Pemiliknya berpaling dari nutrisi hati yang bermanfaat dan justru beralih kepada racun yang mematikan, sebagaimana tindakan mayoritas manusia yang berpaling dari al-Qur'an yang dinyatakan Allah sebagai obat dan rahmat dalam firman-Nya. "Dan kami turunkan dari al-Qur'an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman..." (QS. Al-Isra ayat 82)
Mereka berpaling yang menumbuhkan kemunafikan dalam hati menggerakkan syahwat dan mengandung kekufuran kepada Allah SWT. Pada kondisi ini, hamba mendahulukan kemaksiatan karena kecintaannya kepada sesuatu yang dimurkai oleh Allah SWT dan Rasul-Nya. Dengan demikian, mendahulukan kemaksiatan merupakan buah dari penyakit hati dan akan menambah akut penyakit tersebut. Rasulullah SAW bersabda, "Orang yang ridhai Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama dan Muhammad sebagai Rasul, niscaya akan merasakan kelezatan iman." (HR. Muslim). Rasulullah SAW juga bersabda, "Tidak beriman salah seorang di antara kalian, hingga diriku lebih dicintainya daripada orangtuanya, anaknya dan seluruh manusia." (HR. Bukhari dan Muslim)
Pemiliknya condong kepada kehidupan dunia merasa enjoy dan tenteram dengannya, tidak merasa bahwa sebenanrnya dia adalah pengembara di kehidupan dunia, tidak mengharapkan kehidupan akhirat dan tidak berusaha mempersiapkan bekal untuk kehidupannya kelak disana.
Semoga Allah azza wa jalla melimpahkan dan mengkarunia kekuatan kepada kita untuk menghindari matinya hati.
Komentar
Posting Komentar